Saturday, June 2, 2012

Contoh Proposal PTK

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI NILAI-NILAI DALAM PROSES PERUMUSAN PANCASILA  MELALUI METODE DISKUSI KELOMPOK PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 007 MUARA MUNTAI


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Selain pengembangan aspek kognitif siswa, proses pembelajaran di sekolah dasar juga memberikan bagian yang cukup luas pada kegiatan pembelajaran yang dapat mengembangkan aspek afektif dan psikomotorik siswa. Menurut Sudiro (1999:20), kegiatan pembelajaran dewasa ini telah rnernbentuk kepribadian siswa menjadi individu yang labil dan lemah. Pembelajaran di sekolah hanya menekankan keberhasilan pada proses pembelajaran, sedangkan pasca proses pembelajaran seringkali diremehkan dan tidak dijadikan  acuan dalam penentuan keberhasilan kegiatan pembelajaran. Akibatnya siswa acapkali menunjukkan keberhasilan proses pendidikan melalui peningkatan prestasi belajar, namun pola perilaku yang ditunjukkannya kurang mernenuhi prasyarat normatif masyarakat.
Di sisi lain, derasnya arus globalisasi yang masuk dan datang melalui beragam wahana dan media juga memberikan pengaruh tersendiri pada pola pikir dan pola tindak siswa yang terkadang kurang mencerminkan kehidapan Indonesia secara umum. Jika kegiatan pembelajaran di sekolah tidak memberikan porsi bagi pengembangan kepribadian siswa melalui penekanan kegiatan pembelajaran pada ranah afektif dan psikomotoriknya, maka ada yang menghawatirkan bahwa generasi mendatang menjadi generasi yang kehilangan arah dan jati diri, yang mengambang dalam keterkatung-katungan tanpa mempunyai sebuah pijakan yang kokoh.
Guru sebagai salah satu pihak yang mempunyai kewenangan dalam menentukan kebijakan pendidikan  terutama dalam proses pembelajaran mempunyai tanggung jawab yang besar guna mengatasi permasalahan atau problematika ini. Guru dituntut mempunyai kemampuan dan kreatifitas tersendiri untuk melakukan pendekatan melalui proses pembelajaran misalnya dalam hal menanamkan nilai-nilai kepada anak didik. Penanaman nilai-nilai kepada anak didik dapat dilakukan melalui  integrasi dengan mata pelajaran yang diberikannya (Wina Sanjaya, 2006). Guru pengajar di kelas, secara prinsipil, harus memiliki kemampuan dan keterampilan khusus dalarn melakukan pendekatan pembelajaran yang dapat merangsang proses pengembangan dan aktualisasi diri pada siswa dengan mempergunakan strategi pernbelajaran yang tepat sasaran, berdaya guna, serta berhasil guna sehingga pada proses pembelajaran siswa dibekali dengan nilai-nilai dan kemampuan yang memadai.
Salah satu ruang lingkup pembelajaran PKn di sekolah dasar adalah aspek norma, hukum dan peraturan meliputi: tertib dalam kehidupan keluarga, tertib di sekolan, norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional. Dengan mengacu kepada ruang lingkup tersebut, nampak bahwa nilai-nilai dalam proses perumusan pancasila yang berlaku di masyarakat merupakan hal penting dipelajari dan diterapkan oleh siswa. Berdasarkan pada hasil pengamatan penulis selaku guru dengan tugas tambahan Kepala Sekolah di SD Negeri 007 Jantur Kec. Muara Muntai, akhir-akhir ini terjadi kecenderungan penurunan nilai-nilai dalam proses perumusan pancasila pada diri para siswa Kelas VI. Akar permasalahannya tentu saja banyak, salah satu diantaranya adalah para guru jarang memperhatikan dan memikirkan bagaimana menanamkan nilai kepada siswanya dengan mengintegrasikannya pada materi pembelajaran. Siswa di kelas tersebut memiliki tingkat pengetahuan dan aplikasi sikap dan perilaku sopan santun yang relatif kurang dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Hal ini sangat merisaukan penulis sehingga penulis merasa sangat perlu melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) agar sikap, keterampilan dan pengetahuan siswa dalam pengembangan diri dari sikap sopan santun mengalami peningkatan.
B.     Rumusan Masalah
“ Bagaimana peningkatan kemampuan memahami Nilai-nilai dalam Proses Perumusan Pancasila melalui metode diskusi kelompok pada siswa kelas VI SD Negeri 007 Jantur Kec. Muara Muntai”.
C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan memahami Nilai-nilai dalam Proses Perumusan Pancasila melalui metode diskusi kelompok pada siswa kelas VI SD Negeri 007 Jantur Kec. Muara Muntai.
D.    Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan  kelas (PTK) ini diharapkan dapat memberi manfaat  kepada:
1.   Peneliti/guru: Meningkatkan kemampuan dalam menyusun rangcangan penelitian dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengintegrasikan pembelajaran nilai-nilai dalam proses perumusan pancasila pada kegiatan belajar mengajar menggunakan strategi diskusi.
2.   Bagi siswa: (a) Mendapatkan tambahan pendidikan yang sangat bermakna untuk kesuksesan dirinya karena orang yang memiliki nilai-nilai dalam proses perumusan pancasila yang baik adalah pribadi yang menyenangkan, (b) Meningkatkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran.
3.   Sekolah: Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan bagi sekolah yang dapat dikembangkan oleh guru yang lain.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
                A.    Metode Diskusi Kelompok
1.      Pengertian Diskusi Kelompok
Menurut Subroto (2002:179), dinyatakan bahwa diskusi kelompok adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok untuk saling bertukar pendapat suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban atau kebenaran atas suatu masalah. Hal serupa sesuai dengan apa yang disampaikan Romlan (Dalam Nilawati, 1997:7) dinyatakan bahwa diskusi kelompok adalah percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih untuk memecahkan masalah dan memperjelas suatu persoalan. Jadi diskusi kelompok adalah suatu percakapan yang dilakukan oleh tiga orang atau lebih, melalui proses bertukar pikiran dan argumentasi kearah pemecahan masalah secara bersama-sama. Proses diskusi kelompok ini dapat dilakukan melalui forum diskusi diikuti oleh semua siswa di dalam kelas dapat pula dibentuk kelompok-kelompok lebih kecil. Yang perlu diperhatikan ialah para siswa dapat melibatkan dirinya untuk ikut berpartisipasi secara aktif di dalam forum diskusi kelompok, jadi metode diskusi kelompok adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana seorang guru memberi kesempatan kepada siswa (kelompok siswa) untuk mengadakan percakapan guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternative pemecahan atas masalah.
2.      Relepansi Diskusi Kelompok
Teknik metode diskusi kelompok sebagai proses belajar mengajar lebih cocok dilakukan jika guru memiliki tujuan antara lain :
a.       Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada atau yang dimiliki oleh para siswa;
b.      Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyalurkan pendapatnya masing-masing;
c.       Memperoleh umpan balik dari para siswa tentang tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai;
d.      Membantu para siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah yang dilihat baik dari pengalaman sendiri maupun dari pelajaran sekolah dan
e.       Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
3.      Langkah-langkah Penggunaan Metode Diskusi Kelompok
Untuk dapat mengoperasikan metode diskusi kelompok ini ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan bagi guru antar lain :
a.       Guru menggunakan masalah yang ada didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya, hal terpenting adalah permasalahan yang dirumuskan sejelas-jelasnya agar dapat dipahami baik-baik oleh setiap siswa,
b.      Para siswa berdiskusi di dalam kelompok dan setiap anggota kelompok ikut berpartisipasi secara aktif,
c.       Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya, hasil-hasil yang dilaporkan itu ditanggapi oleh semua siswa (kelompok lain),
d.      Akhir diskusi para siswa mencatat hasil-hasil diskusinya dan guru mengumpulkan hasil diskusi dari tiap-tiap kelompok.
4.      Keuntungan Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan salah satu pengalaman belajar yang diterapkan di semua bidang studi dalam batasan-batasan tertentu, pengalaman diskusi kelompok memberikan keuntungan bagi para siswa sebagai berikut :
a.       siswa dapat berbagi berbagai informasi dalam menjalani gagasan baru atau memecahkan masalah,
b.      dapat meningkatkan pemahaman atas masalah-masalah penting,
c.       dapat mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi,
d.      dapat meningkatkan ketertiban dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dan
e.       dapat membina semangat kerjasama dan bertanggung jawab.
5.      Kelemahan-kelemahan Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan dalam arti tidak tercapai tujuan yang diinginkan. Wardani (Dalam Puger, 1997 : 9) dinyatakan bahwa kelemahan-kelemahan dalam diskusi kelompok antara lain :
a.       diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar yang biasa,
b.      dapat memboroskan waktu terutama bila terjadi hal-hal yang negatif seperti pengarahan yang kurang tepat,
c.       anggota yang kurang agresif (pendiam, pemalu) sering tidak mendapatkan kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya sehingga terjadi frustasi atau penarikan diri dan
d.      adakala hanya didominasi oleh orang-orang tertentu saja.
                B.     Teori Kemampuan
Spencer dan Spencer (dalam Hamzah, 2006) mendefinisikan kemampuan sebagai karakteristik yang menonjol dari seorang individu yang berhubungan dengan kinerja efektif dan/atau superior dalam suatu pekerjaan atau situasi. Sedangkan menurut Hamzah (2006) kemampuan adalah merujuk pada kinerja seseorang dalam suatu pekerjaan yang bisa dilihat dari pikiran, sikap, dan perilakunya.
Daryanto (2009) menyatakan bahwa kemampuan adalah sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana untuk member kemudahan belajar kepada peserta didik.
Lebih lanjut dijelaskan tentang kemampuan-kemampuan siswa dalam proses belajar-mengajar yang meliputi ranah kognitif dan afektif. Ranah kognitif terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, melakukan sintesis, dan mengevaluasi. Ranah afektif terkait dengan kemampuan menerima, merespons, menilai, mengorganisasi, dan memiliki karakter (Daryanto, 2009).
Kemampuan mengetahui artinya kemampuan mengetahui fakta, konsep, prinsip, dan skill. Dalam kegiatan belajar dapat ditunjukkan melalui mengemukakan arti, member nama, membuat daftar, menentukan lokasi tempat, mendeskripsikan sesuatu, menceritakan sesuatu yang terjadi, dan menguraikan sesuatu yang terjadi. Kemampuan memahami artinya kemampuan mengerti tentang hubungan antar faktor, antar konsep, antar prinsip, antar data, hubungan sebab akibat dan penarikan kesimpulan. Dalam kegiatan belajar ditunjukkan melalui mengungkapkan gagasan atau pendapat dengan kata-kata sendiri, membedakan, membandingkan, menginterpretasikan data, mendeskripsikan dengan kata-kata sendiri, menjelaskan gagasan pokok, dan menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.
Kemampuan menerima artinya kemampuan menerima fenomena (gejala atau sesuatu hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra) dan stimulus (rangsangan) atau kemampuan menunjukkan perhatian yang terkontrol dan terseleksi. Dalam kegiatan belajar ditunjukkan dengan adanya suatu kesenangan dalam diri siswa terhadap suatu hal yang menyangkut belajar, misalnya senang mengerjakan soal-soal, senang membaca, senang menulis, dan sebagainya.
Kemampuan merespon, dalam arti kemampuan menunjukkan perhatian yang aktif, kemampuan melakukan sesuatu dan kemampuan menanggapi. Dalam kegiatan belajar dapat ditunjukkan  antara lain melalui bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas, menaati aturan, mengungkapkan perasaan, menanggapi pendapat, meminta maaf atas suatu kesalahan, mendamaikan perselisihan pendapat, menunjukkan empati, melakukan perenungan, dan melakukan introspeksi.
               C.    Nilai-nilai dalam Proses Perumusan Pancasila
Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-citanya berjalan berabad-abad dengan cara bermacam-macam dan bertahap. Sejarah perumusan Pancasila erat hubungannya dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Karena sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak berabad-abad yang lalu itu panjang sekali, maka perlu ditetapkan tonggak-tonggak sejarah yaitu peristiwa-peristiwa penting, terutama hubungannya dengan Pancasila.
Anggota BPUPKI resmi dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. Sehari berikutnya yaitu tanggal 29 Mei 1945, BPUPKI mulai bersidang. Sidang berlangsung sampai tanggal 1 Juni 1945. Salah satu agendanya adalah merumuskan dasar negara Indonesia merdeka.
Dalam sidang tersebut, beberapa anggota mengajukan usulan tentang dasar negara. Ada tiga tokoh yang mengajukan gagasan tentang dasar negara Indonesia. Mereka adalah Mohammad Yamin, Soepomo, dan Soekarno.
Pada tanggal 29 Mei 1945, Mohammad Yamin mengemukakan gagasannya. Menurutnya, negara Indonesia harus berpijak pada lima dasar.
Berikut ini lima dasar usulan Mohammad Yamin.
1.      Peri Kebangsaan
2.      Peri Kemanusiaan
3.      Peri Ketuhanan
4.      Peri Kerakyatan
5.      Kesejahteraan Rakyat
Selanjutnya, tanggal 31 Mei 1945 giliran Soepomo menyampaikan gagasannya. Menurutnya, Indonesia harus berdiri di atas asas-asas berikut.
1.      Persatuan
2.      Kekeluargaan
3.      Keseimbangan Lahir dan Batin
4.      Musyawarah
5.      Keadilan Rakyat
Terakhir, tanggal 1 Juni 1945 giliran Soekarno menyampaikan usulannya. Soekarno juga menyatakan bahwa negara Indonesia harus didirikan di atas lima dasar. Hanya saja,  rinciannya berbeda. Berikut ini lima dasar negara usulan Soekarno.
1.      Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme
2.      Peri Kemanusiaan atau Internasionalisme
3.      Mufakat atau Demokrasi
4.      Kesejahteraan Sosial
5.      Ketuhanan Yang Maha Esa
Usulan-usulan tersebut tidak langsung diterima oleh BPUPKI. Setiap usulan ditampung dan dimusyawarahkan bersama. Oleh karena itu, dibentuklah sebuah tim khusus. Tim tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah panitia kecil yang terdiri atas sembilan orang. Mereka adalah Soe karno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, K.H. Wachid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikoesno Tjokrosoejoso. Tim inilah yang kemudian disebut sebagai Panitia Sembilan. Panitia Sembilan bertugas membahas lebih lanjut usulan-usulan tentang dasar negara.
Tanggal 22 Juni 1994, Panitia Sembilan menetapkan hasil siding. Hasilnya adalah rumusan yang disebut sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Piagam ini dinamakan Piagam Jakarta karena disusun di Jakarta. Dalam piagam inilah termuat lima dasar negara Indonesia.
Selesai menjalankan tugasnya,BPUPKI dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945. Sebagai gantinya, dibentuklah PPKI (Panitia Pelaksana Kemerdekaan Indonesia). Dalam bahasa Jepang, PPKI disebut Dokuristu Zyunbi Inkai. PPKI-lah yang mengesahkan Pembukaan UUD 1945 yang rumusannya di ambil dari Piagam Jakarta. Di dalam Pembukaan UUD 1945 itu tercantum rumusan Pancasila dasar negara. Pengesahannya dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1945. Namun sebelum disahkan, Piagam Jakarta mengalami sedikit perubahan. Atas usul Moh. Hatta, butir pertama Piagam Jakarta diubah. Bunyinya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” Sebelumnya, butir pertama berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Piagam Jakarta yang telah mengalami perubahan itu kemudian disahkan menjadi pembukaan (preambule) Undang-Undang Dasar 1945. Lima dasar atau sila yang dicantumkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu kemudian disebut Pancasila.


BAB III
METODE PENELITIAN


A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 007 Muara Muntai Kabupaten Kutai Kertanegara, dengan subyek penelitian adalah siswa kelas VI yang berjumlah 25 orang siswa. Dalam usaha untuk memperoleh hasil penelitian tindakan kelas maka dilakukan dalam beberapa siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai. Setiap siklus melalui tahapan: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas dijabarkan sebagai berikut :
1.      Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah :
a.       Menyusun skenario pembelajaran                                                      
b.      Membuat lembar kerja siswa (LKS)
c.       Membuat alat evaluasi
d.      Membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar di kelas pada saat pembelajaran berlangsung
2.      Pelaksanaan tindakan
Tindakan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan.
a.       Guru menyampaikan materi pelajaran dengan singkat dan jelas.
b.      Guru mengemukakan suatu masalah tertentu, siswa diberi kesempatan untuk bertanya mengenai kejelasan masalah tersebut.
3.      Observasi
Bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, kegiatan observasi yang dilaksanakan. observer mengamati aktivitas guru pengajar dan aktivitas siswa. Observasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan guru mengelola proses pembelajaran di kelas dan aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran. Instrumen observasi yang digunakan adalah lembar observasi.

4.   Refleksi
Tindakan dilakukan putaran demi putaran sampai tercapainya tujuan PTK. Pada setiap akhir putaran atau siklus dilakukan refleksi. Tujuannya adalah untuk melihat hal-hal yang telah dicapai dan yang belum dicapai pada setiap tindakan. Berdasarkan hasil refleksi kemudian dilakukan penyempurnaan terhadap hal-hal yang kurang, guna mengatasi secara keseluruhan masalah-masalah dalam pembelajaran PKn.
A.    Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan November-Desember tahun 2010 di SD Negeri 007 Muara Muntai.
B.     Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI yang jumlah siswanya sebanyak 25 orang. Sedangkan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan Pendekatan Inkuiri.
C.    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara berikut :
1.   Dokumentasi nilai.
2.   Observasi, menggunakan tabel pedoman  observasi untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa dan aktivitas guru pada saat pembelajaran berlangsung.
3.   Tes setiap akhir siklus, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa per siklus. Tes ini dibuat oleh peneliti sesuai dengan materi yang diajarkan kepada siswa. Soal tes setiap siklus berbentuk uraian berjumlah 5 soal.
D.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data penelitian ini secara deskriptif  yang artinya hanya memaparkan data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar. Data yang diperoleh kemudian disusun, dijelaskan dan dianalisis dengan cara menggambarkan atau mendeskripsikan data tersebut ke dalam bentuk yang sederhana.
Secara rinci analisis dilakukan dalam tiga tahap, yaitu:
1. Reduksi data
Pada tahap reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang diperoleh di lapangan.
2. Paparan data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar dipaparkan secara lebih sederhana dalam bentuk paparan naratif, yaitu disajikan dalam bentuk tabel dan diberi keterangan berupa kalimat sederhana. Analisis data kuantitatif menggunakan statistik deskriptif (rata-rata dan grafik).
a. Rata-rata
Rata-rata digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan rata-rata skor hasil belajar masing-masing siklus.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas kelompok, nilai tugas individu dan nilai tes pada setiap siklus menggunakan rumus:
         2 UH + Tg
NK = ------------
               3
Keterangan:                                          
NK = Nilai hasil belajar siswa dalam setiap siklus
UH = Skor tes akhir siswa
Tg  = skor tugas                                             
b. Persentase
Persentase digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar dari nilai dasar ke siklus I, dari siklus I ke siklus II, dst dengan mengunakan rumus:
Persentase = _a_ x 100%
                     b
Keterangan: a = Selisih nilai rata-rata hasil belajar siswa pada dua siklus
                 b = Nilai rata-rata hasil belajar pada siklus sebelumnya.
c. Grafik
Grafik digunakan untuk memvisualisasikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan pembelajaran Tematik pada masing-masing siklus.
3. Penarikan kesimpulan
Setelah data diperoleh, kemudian diolah secara sistematis dan berdasarkan data tersebut diambil kesimpulan.



DAFTAR PUSTAKA

Abu, A dan Joko T. P. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Djuwita, P. 2006. PBM PPKn di SMA. http://litagama.org


Gulo, W. 2005. Strategi Belajar Mengajar Jakarta : Grasindo

Nasution, S. 1988. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : Bina Aksara

Pakdesofa. 2008. Menumbuhkan Motivasi Belajar.  http://alfurqon.or.id
-------. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. http://pakguruonline.pendidikan.net

Setiawan, Y. 2006. Mencari Metode Pengajaran Yang Lebih Baik. http://www.siaksoft.net

Sudrajat, A. 2007. Model Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/feel/

Sunarto, dkk. 2006. Pendidikan Kewarganegaraan  Untuk SD kelas VI. Jakarta :Erlangga

Usman & Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar mengajar. Bandung: Rosdakary

No comments:

Post a Comment